Membangun Wirausaha Sosial Bersama ‘Kitong Bisa’

Halo.. Indahistoria readers!

Hari ini saya akan posting tulisan saya sebagai koresponden di www.rri.co.id tentang social enterprises atau wirausaha sosial..

Please check it out! Semoga terinspirasi …

KBRN, Jakarta : Pendidikan merupakan hal penting untuk kemajuan suatu negara. Tanpa sumber daya manusia yang unggul, maka sulit bagi sebuah negara untuk melakukan pembangunan dan menjadi negara maju.

Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya organisasi non laba ‘Kitong Bisa’ pada 13 April 2009. Organisasi ini diinisiasi oleh Billy Gracia Mambrasar dan ayahnya. Pada awalnya organisasi ini melakukan kegiatan mengajar atau sekolah informal di kampung halamannya, Papua. Dari sinilah banyak pihak yang tertarik untuk berkonsultasi dengan Billy agar mereka dapat melakukan kegiatan sosial sejenis seperti yang dilakukan oleh Billy.

Billy mengatakan saat ini Kitong Bisa memberikan pelayanan konsultan wirausaha sosial dalam bidang manajemen pendidikan. Jasa konsultan ini terdiri dari manajemen proyek, strategi manajemen dan strategi pemasaran bagi segala macam wirausaha sosial atau kegiatan non laba dalam sektor pendidikan.

Kitong Bisa juga memberikan konsultasi untuk menjalankan program kampanye dan berbagai macam program CSR yang cocok dilakukan di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Kitong Bisa memiliki tiga visi utama yaitu pendidikan, pengembangan sumber daya manusia dan kewirausahaan sosial,” ujar Billy saat diwawancarai melalui telepon oleh RRI, Selasa (9/5/2017).

Menurutnya, pendidikan atau sumber daya manusia yang baik juga harus bisa memecahkan permasalahan lapangan kerja atau pengangguran. Oleh karena itu, sejatinya pendidikan itu ditempuh bukan hanya untuk meraih gelar atau ijazah semata.

Kitong Bisa memiliki 9 orang tim inti yang handal. Billy sendiri selaku Co-Founder merupakan alumni dari Australia Development Scholarship dan mendapatkan kesempatan untuk menempuh Master jurusan Bisnis di Australian National University.

Tim  yang handal inilah yang membawa Kitong Bisa sehingga dapat berjalan sampai saat ini. Billy pun menegaskan meskipun Kitong Bisa merupakan organisasi non laba namun ia sendiri tak segan untuk bersikap tegas dalam hal kinerja organisasi. Menurutnya bahwa meskipun organisasi non laba, tapi kerja profesional dalam mencapai target-target organisasi juga perlu diterapkan.

Sampai saat ini Kitong Bisa telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak diantaranya Kedutaan Amerika Serikat untuk Indonesia, Austalia Awards Indonesia, Quatmo Foundation Vietnam, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, PT Freeport Indonesia, Universitas Atmajaya dan masih banyak lagi.

Saat ini Kitong Bisa sedang menggarap proyek terbaru yaitu pemberdayaan 200 wirausaha wanita di daerah Aceh dan Papua agar mereka dapat menjual produk khas mereka melalui online atau e-commerce platform dan sosial media.

Billy pun memberikan tiga saran utama bagi pembaca yang memiliki keinginan untuk membangun wirausaha sosial atau organisasi non laba seperti Kitong Bisa. Pertama adalah memiliki kunci visi yang tepat atau dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kedua, harus memiliki pola pikir entrepreneur atau wirausaha. Dan yang terakhir adalah menjaga konsistensi dan terjun penuh waktu.

Apakah Anda tertarik untuk menjadi wirausaha sosial? Semoga dengan semakin bermunculannya wirausaha sosial di Indonesia maka permasalahan-permasalahan masyarakat akan dapat diatasi dan berkurang di masa yang akan datang. (Indah/SAS/DS)

http://rri.co.id/post/berita/390990/feature/membangun_wirausaha_sosial_bersama_kitong_bisa.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *