Revitalisasi Koperasi sebagai Ekonomi Kerakyatan Guna Menghadapi Globalisasi

Kantor Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Foto:President Post

Saat ini dunia telah memasuki era globalisasi dimana jarak seolah menjadi tak begitu berarti. Dunia menjadi sempit dan batas-batas antar negara seolah menjadi kabur dengan kemajuan teknologi. Inilah yang dikenal dengan istilah global village atau desa global.

Selain teknologi, implementasi perdagangan internasional pun kian berkembang dan berdampak bagi negara-negara yang turut mengadopsinya. Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar keempat di dunia pun tak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam kegiatan perdagangan internasional. Dimulai pada 1967 ketika dibentuknya Association of South East Asian Nations (ASEAN) hingga terbentuknya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada 1992 di Singapura saat dilangsungkannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-4. Setelah itu, munculah berbagai macam ekonomi integrasi atau perjanjian perdagangan internasional antara Indonesia dengan beberapa negara lainnya.

Sebenarnya jika kita melihat dari semangat dan tujuannya, perdagangan internasional memiliki tujuan yang positif yakni memaksimalkan keuntungan perdagangan dengan semakin luasnya jangkauan pasar dan menghilangkan biaya atau hambatan perdagangan antar negara. Di samping meluasnya pemasaran barang produksi, negara juga dapat memenuhi barang-barang kebutuhannya yang tidak dapat atau kurang efisien jika mereka produksi sendiri.

Namun, di sisi lain implementasi perdagangan bebas ini menimbulkan polemik tersendiri di Indonesia. Perdebatan muncul dari pebisnis lokal yang khawatir bahwa usahanya akan kalah bersaing dengan pengusaha luar negeri yang memiliki modal dan sistem manajemen lebih unggul. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjembatani polemik ini dengan memberikan solusi yang tepat guna meminimalisir bahkan menghilangkan dampak negatif dari perdagangan internasional bagi pebisnis dalam negeri, terutama usaha kecil menegah (UKM).

Ekonomi Kerakyatan Koperasi sebagai Solusi

Landasan koperasi didasarkan pada Pancasila dimana kegiatan koperasi dilakukan guna mewujudkan sila kelima yakni kesejahteraan sosial. Jika dilihat dari landasan konstitusional koperasi Indonesiayakni UUD 1945. Landasan tersebut tertuangdalam Pasal 33 ayat 1 yang menegaskan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”. Sekilas memang tidak dinyatakan secara jelas bahwa koperasi merupakan bagian dari salah satu penopang dalam struktural perekonomian Indonesia.Namun, jika kita melihat pasal 33 dengan seksama terlihat bahwa di sana menyebutkan tentang “asas kekeluargaan” yang juga merupakan asas koperasi Indonesia.

Di sisi lain, berdasarkan UU No. 25 tahun 1992 kita dapat melihat definisi dari koperasi adalah badan usaha yang memiliki keanggotaan atau badan hukum koperasi, dimana dalam penerapan kegiatan koperasi harus selalu berpedoman pada prinsip-prinsip koperasi yang bertujuan sebagai penggerak ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Sistem ekonomi kerakyatan yang dimiliki koperasi ini ternyata telah terbukti ampuh dan menunjukkan daya tahannya terhadap dampak krisis moneter yang melanda beberapa negara di kawasan Asia (Korea, Thailand, Indonesia, Malaysia) pada tahun 1997. Di sisi lain, era globalisasi dan perdagangan internasional yang didaulat oleh kekuatan kapitalis membawa konsekuensi seperti semakin ketatnya persaingan bisnisdiantara pelaku-pelaku ekonomi atau bisnis internasional. Dalam praktik perdagangan internasional tersebut, perusahaan-perusahaan besar atau multinasional mengelola bisnisnya dengan prinsip ekonomi yang rasional seperti penerapan prinsip efektivitas, efisiensi dan produktivitas yang berhadapan dengan pelaku ekonomi nasional atau lokal termasuk koperasi yang dalam beberapa aspek tidak sebanding kekuatannya.

Oleh karena itu, koperasi di Indonesia yang berfungsi sebagai badan usaha dengan megedepankan azas kekeluargaan dan mengutamakan kesejahteraan anggota, pada praktiknya tidak hanya mencari keuntungan saja. Di dalam bidang usahanya, koperasi juga banyak menggunakan kandungan lokal sehingga dapat memanfaatkan sumber daya Indonesia yang dapat menghasilkan produk lokal unggulan (Amalia, 2012)

Revitalisasi Koperasi Indonesia

Melihat pemaparan sebelumnya tentang era globalisasi dan perdagangan internasional serta kekuatan ekonomi kerakyatan yang dimiliki oleh koperasi maka sudah seharusnya seluruh bangsa dan diatur oleh Pemerintah mewujudkan amanah UUD 1945 yakni menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu dilakukan langkah-langkah strategis melalui revitalisasi koperasi Indonesia diantaranya sebagai berikut.

1. Revitalisasi Sistem Manajemen Koperasi

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, revitalisasi memiiki arti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya. Revitalisasi bisa juga diartikan sebagai proses, cara dan atau perbuatan untuk menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai program kegiatan apapun. Koperasi harus fokus dalam mempersiapkan revitalisasi bisnisnya agar mampu mencapai tujuan, memperkuat aset dan sumber daya manusia, memaksimalkan implementasi rencana strategi dan program kerja, meningkatkan semangat kerja karyawan serta budaya organisasi, memperkuat kepemimpinan dan manajemen koperasi termasuk struktur organisasinya, memaksimalkan pertumbuhan penjualan dan laba koperasi serta melakukan pengawasan melalui tata kelola yang baik atau good corporate governance dan tak ketinggalan implementasi dari manajemen resiko. Revitalisasi bisnis ini dilakukan dalam rangka menciptakan nilai koperasi yang lebih besar di masa depan.

2. Melakukan Transformasi Teknologi dalam Menjalankan Proses Bisnis

Koperasi harus melakukan strategi pengembangan teknologi informasi yang difokuskan untuk mengintegrasikan sistem TI melalui perencanaan yang matang dalam menjalankan proses dan ekspansi bisnis dengan mengembangkan aplikasi dan infrastruktur TI. Tak ketinggalan, akses dan transfer teknologi untuk UKM pun harus terus dikembangkan. Koperasi harus aktif dalam mengadakan kerjasama atau kemitraan dengan perusahaan, lembaga atau institusi yang berkompetem dalam bidang alih teknologi.

3. Memperbaiki Citra Koperasi di Mata Masyarakat Indonesia

Dalam menjalankan atau mengembangkan suatu bisnis, tak dapat dipungkiri bahwa citra suatu organisasi juga turut mempengaruhi. Citra yang baik akan menimbulkan suatu kepercayaan, baik dari internal maupun eksternal koperasi sendiri sehingga dapat membantu koperasi dalam mencapai tujuannya.

Jika melihat fenomena saat ini, citra koperasi di mata masyarakat Indonesia masih belum terbentuk dengan cukup baik. Sistem manajemen koperasi terlihat masih usang dalam menjalankan kegiatan usahanya jika dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Inovasi maupun promosi yang dilakukan koperasi masih kurang menimbulkan efek positif di mata masyarakat. Padahal seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, sistem ekonomi kerakyatan yang dianut oleh koperasi merupakan sistem yang sangat baik.

Di media massa, berita negatif tentang koperasi tiga kali lebih banyak daripada berita positif. Padahal pada praktinya banyak prestasi signifikan dari kegiatan koperasi yang telah terukir di berbagai daerah. Citra koperasi tersebut yang kemudian mempengaruhi hubungan koperasi dengan pelaku usaha lain sekaligus padaperkembangan koperasi itu sendiri (Amalia, 2012).

Oleh karena itu, memperbaiki citra merupakan pekerjaan rumah penting yang harus segera dilakukan oleh koperasi. Koperasi harus menciptakan strategi dan perencanaan yang terukur dalam membangun citra lembaganya. Diperlukan kegiatan kampanye yang dilaksanakan secara periodik karena citra positif suatu organisasi tidak bisa dibangun hanya dalam satu malam saja.

Ketiga permasalahan utama beserta solusinya tersebut merupakan langkah penting yang harus dilaksanakan dalam rangka membangun koperasi di era modern. Kita harapkan bahwa koperasi dapat menjalankan kegiatan usahanya lebih baik lagi serta dapat bersaing dengan lembaga swasta atau asing lainnya di masa depan. Jayalah terus koperasi Indonesia!

Penulis:Indah Purnamasari, Mahasiswa Jurusan International Trade Southeast University, China

Referensi

Amalia, Lia. 2012. Peranan Koperasi dalam Pembangunan Ekonomi (Sebuah Pengamatan Deskriptif di Indonesia)

Kamus Besar Bahasa Indonesia

www.aseansec.org

www.depkop.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *